Monday, June 13, 2016

Alang : Break Down episode 01

Judul : "Alang: Break Down"
Penulis : Agung Setiawan
Editor : -

Alang : Break Down

>>> Tempat Untuk Tinggal

Alang, ya... itulah namaku. Selama ini aku tidak pernah memiliki banyak teman, ya... tidak ada satupun yang benar-benar menganggapku teman, atau mungkin hanya perasaanku saja aku tak pernah tahu. Kini aku telah berada di kawasan sekolah baruku, aku berjalan sengan penuh keyakinan bahwa aku akan diterima di tempat ini. yaa... Walaupun aku tidak terlalu menyukai sekolah yang akan aku kunjungi ini kursa. Sebelumnya aku ingin mendaftarkan diriku pada sekolah lain, yah... bersama beberapa orang yang aku sebut teman. Tapi ada sedikit masalah mengenai hal itu... ya, masalah yang sedikit menjengkelkan. Ya sudahlah, tak perlu membahas mengenai hal tersebut. Aku juga yakin walaupun aku menjelaskan masalah itu, tetap saja aku akan berada disini. Aku masih berjalan, yah, perlahan dengan sedikit malu-malu. Bagaimanapun aku tak tahu menahu soal sekolahan ini, yang aku tahu hanyalah namanya SMA Kembang Biru. Aku tahu kalian pastinya langsung bisa menebak bahwa SMA ini adalah SMA Swasta,


"Hoy! Kau!", ada yang memanggilku. Kurasa orang yang memanggilku itu seseorang yang berada di antara bangunan di sebelah kiriku. Ya, aku sedikit was-was sebenarnya, mungkin karena sering membaca manga yang biasanya disana tergambarkan bahwa orang yang berada di lorong yang gelap adalah penjahat. Hehehe...
"Iya! Siapa disana?", akhirnya kuputuskan untuk menghampiri orang itu. Yang benar saja, Mungkin saja ini bisa jadi awal yang buruk untukku.
"Kau mau bersekolah disini ya?", sungguh mengagumkan. Pria ini, suaranya terdengar sangat tenang, benar-benar tenang.
"Iya, tentu saja. Memangnya kau pikir ada keperluan apa lagi jika aku kemari dengan seragam SMP dan map pendaftaran ditanganku ini?", jawabku setelah mengetahui wajahnya yang sekarang lebih jelas karena ia berada dibawah matahari.
"Nah, Perkenalkan. Namaku Segara, Segara Putra Permana." ternyata aku telah salah mengira, pemuda ini begitu ramah padaku. Walaupun aku juga masih dalam keadaan was-was sebenarnya.
"Aku Alang, hanya Alang, itu saja. Senang berkenalan denganmu." kujabat tangannya yang sedari tadi ia sodorkan padaku. Emm... mungkin suasana akan lebih hangat jika aku tersenyum, yah... akan ku coba.
"Bukankah kau tahu jika ini sudah sangat terlambat. Pukul berapa ini?",
"Aa.. itu... em... ini jam delapan. Apa benar begitu? kau sendiri kenapa tidak masuk?" yah, sial. Ku kira dia akan membalas senyumku seperti di manga ketika seseorang sedang berkenalan.
"Yah... ntahlah. Mungkin takdir membuat aku harus berkenalan denganmu," ugh... dia berbicara seperti itu seakan mengejekku. Sekarang aku mulai tidak nyaman di dekatnya.
"Emm... mungkin saja. Aku akan masuk, kau mau menemaniku? aku benar-benar tak mengerti tempat ini."
"Baiklah, apaboleh buat. Ikuti aku." Dia mulai berjalan, aku mengikuti saja dibelakangnya.
"Emm... apa kau pernah kemari sebelumnya?"
"Yaah, jika kemari... mungkin ini pertamakalinya. Tapi aku tinggal disekitar sini, tenang saja, kau tak akan tersesat. Lagipula, Dimana walimu? tak biasanya seseorang mendaftar sendirian. Ku rasa kau cukup pemberani."
"Ooo... soal itu... apa yang bisa kulakukan? ayah dan ibuku sedang diluar kota saat ini."
"Ah... begitu ya...", jika ku lihat... ia sepertinya tampak sedih. sangat terlihat diraut wajahnya, apa mungkin dia memiliki masalah dengan ayah atau ibunya? aku tak akan tahu jika aku tidak menanyakannya...
"Kenapa? Tidak seperti tadi, sekarang kau terlihat sedikit tidak baik..."
". . ."
"Yah, jika kau tidak mau membicarakannya, ya sudahlah. Aku mau menyerahkan formulir ini. Dimana ruang pendaftarannya?" kurasa kami telah melewati gerbang masuk. Sangat mengejutkan! ini Sekolah swasta, tapi ternyata tempatnya memiliki kualitas yang tak buruk juga. Bangunannya juga terlihat megah dan tidak deburuk yang aku bayangkan.
"Pergilah kesana,"
"Hoy, Hoy! Aku tidak sedang ingin bergurau. apa kau tak melihat?! disana hanya ada pohon dan semak-semak bodoh!" Yang kulihat dari arah yang ia tunjukkan hanyalah pohon dan semak-semak. Yang benar saja anak ini!
"Kupikir kau bukan anak yang bodoh! Yah, harapanku memang tak beralasan. Aku akan masuk ke kelasku, sampai jimpa." Kyaaa... Dia meninggalkanku begitu saja... Cih, sial... . Apa maksudnya menunjuk tempat itu, dan apa maksudnya dia pikir aku ini pandai? kurasa memang dia harus pergi ke rumah sakit. Apa... Tunggu dulu, mungkin aku memang harus ke sana. Mungkin saja ada pintu rahasia atau semacamnya seprti di manga-manga jepang itu, hehe. "Yah... kenapa dia tidak bilang jika disini ada denah SMA nya. Cih, aku sekarang merasa benar-benar bodoh. Kenapa aku tasi tidak memperhatikan papannya, huh." aku bergumam dengan penuh kekesalan. Bagaimana lagi, aku memang sepertinya sedikit bodoh juga, Aaaaaa... Sial.
(Bersambung...)

No comments:

Post a Comment